| gambar ilustrasi |
tidak sedikit para ahli yang mempelajari, hingga memberikan kontribusi positif untuk 'menyembuhkan' persoalan ini. satu persoalan yang sedikit banyak akan berpengaruh terhadap masa depan bangsa ini...
gejala2 tentang kenalan remaja dapat diamati diantaranya:
- Anak-anak yang tidak disukai oleh teman-temannya sehingga anak tersebut menyendiri. Anak yang demikian akan dapat menyebabkan kegoncangan emosi.
- Anak-anak yang sering menghindarkan diri dari tanggung jawab di rumah atau di sekolah. Menghindarkan diri dari tanggung jawab biasanya karena anak tidak menyukai pekerjaan yang ditugaskan pada mereka sehingga mereka menjauhkan diri dari padanya dan mencari kesibukan-kesibukan lain yang tidak terbimbing.
- Anak-anak yang sering mengeluh dalam arti bahwa mereka mengalami masalah yang oleh dia sendiri tidak sanggup mencari permasalahannya. Anak seperti ini sering terbawa kepada kegoncangan emosi.
- Anak-anak yang mengalami phobia dan gelisah dalam melewati batas yang berbeda dengan ketakutan anal-anak normal.
- Anak-anak yang suka berbohong.
- Anak-anak yang suka menyakiti atau mengganggu teman-temannya di sekolah atau di rumah.
- Anak-anak yang menyangka bahwa semua guru mereka bersikap tidak baik terhadap mereka dan sengaja menghambat mereka.
- Anak-anak yang tidak sanggup memusatkan perhatian. (psikonseling.blogspot.com)
| gambar ilustrasi |
Guru dan orangtua yang dulu menjadi model bagi anak kini bergeser ke teknologi informasi yang semakin murah sehingga penggunanya makin luas, mulai dari masyarakat papan bawah hingga atas serta menjangkau anak-anak dan balita.waduh, makin njlimet ya.... MasyaAllaaahhh...
Hal ini disampaikan guru besar psikologi sosial dari Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan Sarwono, dalam Seminar Nasional Kesehatan Mental Anak yang diselenggarakan Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Sabtu (12/11/2011).
"Sumber informasi sekarang tidak terbatas dan beragam. Akibatnya, pranata lama dari sesepuh, tokoh agama, orangtua, pemerintah, lembaga adat kehilangan pengaruh," kata Sarlito.
gambar ilustrasi
Setiap orang, menurut Sarlito, lantas mencari acuan masing-masing. Kegalauan pun makin meluas pada remaja hingga ke anak-anak dan dewasa. Terjadi situasi anomie atau tanpa norma. Untuk mengatasi anomie, menurut Sarlito, anak perlu dididik kritis dan bukan sekadar taat kepada orangtua.
"Biarkan anak bertanya dan jawab sebaik mungkin. Dorong anak membuat keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri, dan jaga hubungan emosi yang positif antara anak dan orangtua sehingga jika ada masalah, anak akan datang ke orangtua, bukan ke pihak lain," kata Sarlito. (kompas.com)
(bersambung)
0 Reviews:
Post Your Review